Mengenang Riyanto dan Merayakan Natal

Natal dan Riyanto..

Dok.pribadi

Hari itu pagi-pagi sekali, sebelum terik panas membakar kota Surabaya kami bergegas menuju Mojokerto, sebuah kota yang dinobatkan sebagai kota terkecil di Indonesia, kira-kira delapan kali lebih kecil dari Kota Jakarta Selatan.

Menempuh perjalanan kurang lebih dua jam membuat kami begitu menikmatinya, rasanya ingin segera sampai ke tempat tujuan dan menikmati kue Onde-Onde: konon, Mojokerto dijuluki sebagai kota Onde-Onde. Kembali pada tujuan mengapa menginjakkan kaki ke kota ini.

Memiliki situs peninggalan Majapahit, dari tempat inilah hidup seorang Riyanto; Pria muslim, dan seorang Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama yang gagah berani dengan kebaikan hati yang tak ternilai harganya.

Tentu, menjaga perayaan misa malam natal di Gereja Eben Haezer Mojokerto agar memastikan putra/i Kristus bisa berdoa pada Tuhannya dengan aman adalah sebuah sikap toleransi yang patut kita contoh. Siapa yang menduga rumah Tuhan ini menjadi terget pengeboman oleh orang tak berhati nurani, siapa mengira ada Riyanto yang mau mengorbankan diri.

Dok. pribadi

Siapa sangka, tepatnya malam Natal, 24 Desember 2000 adalah malam terakhir bagi Riyanto menjalankan tugas sebagai seorang anak & Banser sejati. Ditengah kepentingan duniawi; kekuasaan, hawa nafsu, dan juga sikap memecah belah bangsa dengan dalil siapa yang paling benar, seorang Riyanto hadir disana. Ia memutus rantai perbedaan, tak peduli muslim atau kristen, hindu atau budha, bagi dia hidup adalah memberi, sekalipun itu dengan nyawanya.

Tiba di Rumah Riyanto.
Kami disambut hangat dengan senyum, kopi dan kue onde-onde. Bercengkerama sambil menyeruput kopi hitam, kami tahu betul bagaimana perasaan kedua orangtuanya. Harusnya ada sang putra yang menemani dan menjaga di hari tua mereka, namun disisi lain mereka bangga anak mereka mati untuk menyelamatkan ratusan nyawa tak berdosa. Jika tanpa alasan itu kami pun tak mungkin sampai kesana atau Putranya Riyanto tak dikenang seumur hidupnya.

Mak, sapa ku penuh hati-hati.. piye rasane saiki? 

Penuh bangga ia menjawab; anakku nang endi saiki, Swarga sing diparingake dening Gusti Allah,; anakku telah berada di tempatnya sekarang, Surga yang telah Allah sediakan.

Jangan takut nak..Allah telah menakdirkan setiap kita mati dengan caranya masing-masing. Tetaplah menjadi terang dan sebagai anak muda tumbuhkanlah semangat rela berkorban. 

Pesan sang emak menutupi pembicaraan sembari memeluk saya. Saya pun berkaca-kaca membalas pelukan hangat wanita renta yang telah kehilangan putranya.

Dok. pribadi

Setelah dari rumah orangtua Riyanto, kami pun menuju tempat pemakaman ia di abadikan. Diantar orang tuanya, disana banyak bunga bermekaran seakan setiap waktu tempat peristirahatannya selalu dikunjungi. Dan memang begitu adanya.

Saya bangga berada disana, semangat Riyanto sekiranya hidup dalam hati dan sanubari. Perpisahan kami ditutup dengan Doa menurut ajaran islam. Doa saya kepada Tuhan saya pun sama, agar Riyanto beristirahat bersama para kudus-Nya di surga dan semangat pengorbanannya hidup dalam setiap kami.

Kini, 22 tahun sudah Riyanto pergi meninggalkan kita, meninggalkan keluarga dan orang yang dicintainya. Ia telah memilih takdirnya, mati demi banyak orang tanpa ada keraguan. Sutan Syahrir pernah mengatakan “Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.”

Terima kasih Riyanto..

Selamat menyambut natal.

🙏😇

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini