Identitas dan Jati Diri

Saya adalah korban..
Terlahir sebagai generasi Milenial yang menganggap bahwa Keriting Tarik Paksa (KTP) lebih baik daripada harus tampil apa adanya.

Dok.pribadi

Teringat kembali masa itu, dimana saya menjadi korban; saat mama memutuskan untuk menjadikan saya kelinci percobaan.

Saat itu kira² tahun 2008, menjelang PEMILU. Kedua kakak saya sedang berkuliah dan satunya sedang duduk di bangku SMA. Sebagai seorang ibu rumah tangga, mama mencari cara bagaimana menambah pendapatan, ya paling tidak sekadar membeli Fitcin atau garam atau pun ikan tembang di pertigaan Bealaing.

Dimasa itu, banyak orang keriting yang ingin mengubah mahkota kecantikan mereka, namun apa daya, Bealaing bukanlah Mamakota atau Jawa yang memiliki alat dan obat atau alat yang terjangkau untuk meluruskan rambut.

Idenya sederhana, dimulai dari Lanolin; obat rambut yang memiliki bau yang khas dan baru akan hilang setelah seminggu sebagai modal utama usahanya. Saya menjadi kelinci percobaan pertama di Labolatorium KTP rintisannya. Labolatorium itu adalah ruang tengah rumah kami persis dibawah kaki gunung Mandosawu dengan modal utama adalah Strika listrik yang usinya sudah cukup tua. 

Terlahir item manis dan keriting pasti sesuatu yang jarang dibanggakan. Apalagi sebagian besar dari kami tempo itu rata² berkulit manis² item dan berambut ikal.

Saya adalah kelinci percobaan mama yang sukses. Tampilan yang semula ala Bob Marley seolah di sulap jadi Wulan Guritno dalam waktu sepersetrikaan. Untuk sesaat harus saya akui, saya merasa lebih cantik sama seperti artis² yang wajah dan rambutnya selalu dijadikan sampul buku tulis pada masa itu. Alhasil, dari anak muda sampai orang dewasa ramai² ke rumah untuk meluruskan rambut mereka.

Selepas SMA, saya melanjutkan perjalanan mencapai mimpi saya dengan melanjutkan kuliah di malang. Modal rambut KTP dan wajah eksotis, membuat saya begitu percaya diri. Saya merasa diterima di lingkungan teman² berambut lurus dari belahan bumi Indonesia Barat.

Dok.pribadi


Takdir mengantar saya ke Jakarta menjadi bagian dari keluarga besar Pengurus Pusat PMKRI. Di PMKRI lah saya bertemu dan berkenalan dengan saudara saya dari Sabang sampai Merauke dari beragam suku, budaya, warna kulit, dan rambut yang berbeda. Hal itu membuat saya pelan² mencintai keunikan dan belajar menerima diri apaadanya.

Saya mulai dengan berandai-andai, bagaimana kalau saya jujur dengan rambut keriting saya. Setelah beberapa waktu mempertimbangkan, saya akhirnya memantapkan pilihan untuk ke salon dan menggunting pendek rambut saya dan membiarkannya tumbuh dengan bebas.

Tak ada lagi setrikaan, tak ada lagi catok, tak ada lagi waktu ke salon untuk meluruskan rambut jika ia sewaktu waktu kembali keriting. Saya akhirnya bisa menghemat pengeluaran untuk terus survive di mamakota.

Tiga tahun berlalu, saya berpikir bahwa setiap kita berhak membuat pilihan dalam hidup: mulai dari memilih pasangan, memilih sahabat, memilih pekerjaan, memilih harus berpenampilan seperti apa. Satu hal yang kita tidak bisa kita pilih adalah IDENTITAS, terlahir sebagai apa, kapan dan dimana. Itu adalah hadiah sang pemberi hidup yang semestinya di terima sebagai berkat yang disebut JATI DIRI.

❤👩


Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini